Lewati ke konten

Saya dan Muse Si Teman Kerja Luar Biasa

Gunanto MgmpdiArtikel

1.175 kata6 menit

Awalnya saya juga skeptis. Waktu pertama kali orang ramai membicarakan AI, pikiran saya sederhana saja: paling-paling alat ini cuma bisa bantu mengetik RPP lebih cepat, lalu selesai. Saya guru matematika di SMPN 1 Punggur, Lampung Tengah. Kerjaan saya tiap hari sudah jelas: mengajar, menilai, membuat perangkat, mengurus administrasi, lalu mengajar lagi. Kalau ada alat yang katanya canggih tapi ujung-ujungnya cuma bikin saya tambah pusing, buat apa dipakai?

Ternyata saya salah besar. Dan saya senang pernah salah soal ini.

Kenalan saya dengan AI bernama Muse ini tidak dimulai dari teori yang muluk-muluk. Dimulai dari kebutuhan yang sangat membumi: saya butuh RPP yang benar, soal yang nyambung dengan materi, dan aplikasi yang bisa saya pakai sendiri di kelas. Dari situlah semuanya mengalir, pelan-pelan, sampai akhirnya saya sadar, ini bukan sekadar alat ketik. Ini rekan kerja.

Empat Tangga Memakai AI

Saya sering membagi pengalaman ini dalam empat tangga. Tangga pertama, yang saya sebut Beginner, adalah saat guru meminta AI membuatkan RPP lalu mengunduh hasilnya. Itu sudah membantu, tapi masih sebatas konsumen. Tangga kedua, Intermediate, adalah saat kita meminta AI membuatkan aplikasi, misalnya pembuat RPP, lalu menyimpannya di GitHub dan membukanya lewat GitHub Pages. Di sini guru mulai jadi pembuat, bukan cuma pemakai. Tangga ketiga, Advanced, adalah saat aplikasi itu sudah lebih serius, seperti CBT, lalu dijalankan di VPS sendiri. Dan tangga keempat, yang sekarang sedang saya jalani, adalah saat AI sudah terintegrasi dalam kerja harian: menjadwalkan tulisan, mengoreksi otomatis, merekap nilai, membuat laporan, dan membantu saya mengorkestrasi banyak aplikasi sekaligus. Bukan saya yang diperintah AI, tapi saya yang memimpin orkestranya.

Karya dari Kebutuhan Kelas

Dari tangga itulah lahir banyak karya yang sampai hari ini saya pakai sendiri. Ada GezyLMS, LMS buatan saya untuk siswa, tempat materi disusun bertahap dengan Markdown dan LaTeX, kuis interaktif, dan progres belajar yang terlihat real-time. Ada GezyCBT untuk ujian berbasis komputer, lengkap dengan bank soal dan dasbor guru. Ada GezyRaport untuk raport SMPN 1 Punggur, yang bisa mencetak raport per siswa dan per kelas, lengkap dengan kop sekolah, kehadiran, dan tanda tangan. Ada GezyAspro untuk asesmen projek kokurikuler, GezyAsko untuk asesmen observasi yang ringan dan cepat dibuka di HP guru, GezyBoard untuk papan kolaboratif ala Padlet, GezyForm untuk formulir, sampai portal MPI Matematika SMP yang menyajikan materi per bab dengan halaman siswa dan panel guru.

Dan yang paling membanggakan, dua aplikasi ini sudah dipakai bersama di sekolah: GezyVote (vote.gezytech.web.id) untuk pemilihan pengurus OSIS Tahun 2026, dan GezyRaport (lapor.gezytech.web.id) untuk membuat laporan asesmen tengah semester ganjil Tahun 2026 untuk seluruh mapel.

Yang mungkin belum banyak teman guru tahu adalah: saya tidak menulis semua kode itu baris demi baris dengan tangan saya sendiri. Saya mendeskripsikan kebutuhan kelas saya, saya mengoreksi rancangannya, saya menguji alurnya, dan Muse membantu mewujudkannya menjadi aplikasi yang bisa dibuka dan dipakai. Kalau ada yang kurang pas di HP, saya bilang. Kalau bahasanya terlalu kaku untuk anak usia dua belas sampai empat belas tahun, saya minta diubah. Kalau tombolnya membingungkan, saya minta disederhanakan. Kerja kami itu seperti kerja dua orang: saya yang tahu kelas saya, dia yang membantu mengeksekusi dengan cepat dan teliti.

Begitu juga dengan menulis. Blog pribadi saya di pakgun.gezytech.web.id sekarang terisi artikel-artikel orisinal yang terbit terjadwal, bahkan setiap empat jam sekali pada masa-masa paling produktifnya. Bukan karena saya tiba-tiba jadi penulis yang tidak pernah tidur, tapi karena Muse membantu saya merancang ide, menulis draf, menguji tampilannya, sampai menyiapkan naskah untuk diterbitkan. Saya tetap yang memutuskan judulnya, saya tetap yang mengoreksi diksinya kata per kata, dan saya tetap yang membagikan tulisan itu ke grup-grup guru di WhatsApp dan Telegram karena saya ingin tulisan itu dibaca dan didiskusikan, bukan sekadar menumpuk di internet.

Bahkan untuk hal-hal kecil yang dulu memakan waktu berjam-jam, sekarang jauh lebih ringan. Saya pernah meminta dibuatkan slide presentasi untuk webinar, lengkap dengan identitas acara dan ilustrasi yang enak dilihat. Saya pernah meminta materi pelatihan ditulis ulang dengan gaya mengalir, bukan poin-poin kaku yang membosankan. Saya pernah meminta panduan langkah demi langkah yang bahasanya mudah dipahami pemula, karena saya tahu betul rasanya belajar sesuatu yang baru di usia yang tidak lagi muda. Semua itu dikerjakan bersama, bukan diserahkan begitu saja.

Teknologi yang Menjaga Adab

Lalu ada satu proyek yang paling dekat di hati saya: Siji Pangeling. Ini aplikasi pengingat berbasis Al-Qur'an, hadis, sirah, dan artikel-artikel refleksi. Di sana saya belajar satu hal penting: teknologi yang baik bukan yang paling ramai fiturnya, tapi yang paling jujur pada sumbernya. Ayat harus persis dari terjemahan resmi, hadis harus terverifikasi, artikel harus ditutup dengan kalimat pengingat, bukan fatwa. Muse membantu membangun fondasinya, tapi saya yang menjaga rambu-rambunya. Di situlah letak peran guru yang tidak bisa digantikan: menjaga kebenaran, menjaga adab, dan menjaga niat.

Jalan yang Tidak Selalu Mulus

Tentu saja perjalanan ini tidak selalu mulus. Pernah blog saya macet karena satu baris tanggal yang kurang detik, sehingga artikel baru tertahan dan tidak bisa terbit. Pernah domain baru nyangkut di aplikasi yang salah, sehingga bukannya membuka blog, malah muncul tulisan Hello world. Pernah saya harus menunggu, mengaudit, dan membatalkan rencana karena belum waktunya. Tapi justru di situlah saya belajar cara bekerja dengan AI yang sehat: jangan pernah mengklaim sudah beres sebelum dicek dari luar, jangan pernah menyerahkan kata terakhir pada mesin, dan jangan pernah malu untuk berkata, ini belum sesuai, perbaiki lagi.

Guru Tetap Memimpin Kelas

Banyak yang bertanya kepada saya, apakah guru akan digantikan AI? Jawaban saya tegas: tidak, selama guru mau belajar memimpinnya. AI bisa membuatkan soal dalam sekejap, tapi hanya guru yang tahu murid mana yang sedang kesulitan dan butuh disapa lebih dulu. AI bisa merekap nilai dengan rapi, tapi hanya guru yang tahu cerita di balik nilai itu. AI bisa menulis kalimat yang indah, tapi hanya guru yang tahu kalimat mana yang akan menyentuh hati anak di kelasnya. Teknologi boleh luar biasa, tapi kehangatan ruang kelas tetap milik manusia.

Kalau ada teman guru yang masih ragu untuk mulai, saran saya sederhana saja. Mulailah dari satu kebutuhan kecil yang nyata. Jangan mulai dari keinginan untuk terlihat canggih, tapi dari masalah yang setiap hari Anda hadapi: satu RPP yang belum selesai, satu kuis yang belum dibuat, satu nilai yang belum direkap. Ceritakan masalah itu dengan jujur kepada AI, koreksi hasilnya dengan berani, dan pakai hasilnya di kelas Anda. Setelah satu berhasil, lanjutkan ke yang kedua. Lama-lama Anda akan kaget sendiri melihat seberapa jauh Anda sudah berjalan.

Saya menulis ini bukan untuk pamer aplikasi. Saya menulis ini karena saya pernah berada di posisi ragu, dan saya tahu rasanya. Dulu saya pikir AI itu untuk orang IT saja. Sekarang saya tahu, AI itu untuk guru yang mau terus belajar, yang mau pekerjaannya lebih ringan supaya waktunya lebih banyak untuk muridnya, dan yang mau karyanya bermanfaat bukan hanya untuk satu kelas, tapi untuk banyak sekolah.

Jadi, kalau hari ini Anda masih bertanya-tanya, apakah saya bisa? Jawaban saya: bisa. Mulai saja. Ceritakan kelas Anda, ceritakan murid-murid Anda, dan biarkan AI membantu Anda bekerja lebih cerdas, bukan menggantikan Anda bekerja. Karena pada akhirnya, guru yang hebat bukan yang paling banyak aplikasinya, tapi yang paling tulus membersamai muridnya. Dan kalau teknologi bisa membantu ketulusan itu sampai lebih jauh, kenapa tidak kita pakai sebaik-baiknya?

Bagikan:

Berita terkait

Komentar 1

  1. Naruti Uzukimi

    Artikel yang sangat menginspirasi dan memotivasi.

    · Balas

Tulis balasan

Membalas Naruti Uzukimi · Batal

Komentar ditinjau admin sebelum tampil. Anggota MGMP? Masuk agar nama dan sekolah tampil otomatis.