
Pembuka
Suatu hari seorang siswa berkata, setengah bergumam, "Matematika itu ya di buku ini saja, Pak." Baginya matematika lahir di percetakan, dibaca di kelas, dan selesai di kertas ulangan.
Padahal, sekiranya ia menengok kain tapis yang dipakai ibunya saat acara adat — atau mahkota siger yang dikenakan penari saat menyambut tamu — ia akan menemukan matematika di mana-mana: simetri yang nyaris sempurna, pola yang berulang dengan disiplin, bilangan yang dipilih bukan sembarangan. Matematika itu sudah lama tinggal di kampung halaman kita, jauh sebelum ia tercetak di buku paket.
Ilmu yang mempelajari hal ini punya nama: etnomatematika. Dan bagi kita, guru-guru di Lampung Tengah, bahan ajarnya tidak perlu dibeli. Ia tergantung di lemari, berdiri di tengah desa, dan hidup di tangan para pengrajin.
Apa Itu Etnomatematika?
Istilah etnomatematika diperkenalkan oleh matematikawan Brasil, Ubiratan D'Ambrosio, pada tahun 1970-an. Idenya sederhana tetapi dalam: matematika tidak hanya lahir di universitas Eropa. Setiap budaya mengembangkan caranya sendiri untuk menghitung, mengukur, membandingkan, dan merancang pola — lewat tenunan, bangunan, permainan, sampai tata cara membagi hasil panen.
Etnomatematika mengajak kita mengakui cara-cara itu sebagai matematika yang sungguhan, lalu memakainya sebagai jembatan. Bagi siswa, jembatan ini penting sekali: konsep yang abstrak tiba-tiba punya wajah yang mereka kenal. Simetri bukan lagi sekadar definisi di papan tulis; simetri adalah motif di kain yang dipakai neneknya.
Inilah yang dalam pembelajaran mendalam disebut prinsip bermakna — materi yang terhubung dengan hidup siswa, bukan jatuh dari langit.
Tapis: Geometri yang Ditenun Benang Emas
Kain tapis adalah kebanggaan Lampung: kain tenun yang disulam benang emas, dipakai perempuan Lampung pada upacara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu kehormatan. Motifnya bermacam-macam — ada motif kapal yang masyhur, pohon hayat (pohon kehidupan), manusia, hewan, dan deretan motif geometris seperti tumpal dan garis zig-zag.
Cobalah perhatikan selembar tapis dengan mata guru matematika:
- Simetri lipat ada di mana-mana. Motif kapal dan pohon hayat umumnya simetris kiri-kanan, seolah penenunnya melipat kain dan menggambar separuhnya saja.
- Translasi — penggeseran motif yang sama sejauh jarak tertentu — tampak pada deretan tumpal dan zig-zag yang berbaris rapi dari ujung kain ke ujung lain. Ini persis pola berulang yang dalam geometri transformasi kita ajarkan sebagai pengubinan satu arah.
- Keteraturan dan pola bilangan muncul pada susunan motif berselang-seling: besar, kecil, besar, kecil — atau kelompok motif yang jumlahnya bertambah mengikuti deret tertentu.
Para penenun itu tidak pernah membuka buku geometri. Tetapi tangan mereka menjalankan geometri dengan tingkat ketelitian yang membuat malu penggaris kita. Mengajak siswa menyadari hal ini mengubah cara pandang mereka: geometri bukan pelajaran impor; ia warisan kampung sendiri.
Pola-pola geometris berulang seperti pada tepian kain tapis, kurang lebih, berwajah begini — pengulangan motif yang sama dengan jarak yang tetap:

Siger dan Nuwo Sesat: Bilangan serta Bangun di Simbol Daerah
Matematika Lampung tidak hanya tinggal di kain. Ia juga berdiri sebagai mahkota dan sebagai bangunan.
Siger, mahkota perempuan Lampung yang kini menjadi simbol provinsi, memiliki lekuk-lekuk menjulang yang jumlahnya tidak acak. Siger masyarakat Pepadun umumnya berlekuk sembilan, melambangkan sembilan marga, sedangkan siger Saibatin berlekuk tujuh. Di sini ada bahan ajar dua sekaligus: bilangan yang sarat makna, dan simetri — siger simetris sempurna antara sisi kiri dan kanan, karena ia memang lambang keseimbangan dan kehormatan.
Sementara itu, rumah adat seperti Nuwo Sesat — balai tempat bermusyawarah masyarakat Pepadun — menyimpan geometri ruang dalam wujud nyata: denah persegi panjang yang simetris, barisan tiang-tiang penopang yang teratur jaraknya, tangga dengan anak tangga yang dihitung, serta ruang terbuka besar tanpa sekat yang dirancang untuk menampung musyawarah. Proporsi, jarak, dan bangun datar serta ruang bisa dibaca langsung dari bangunannya.
Bahkan anyaman tikar dan kerajinan bambu di sekitar kita pun menyimpan pola pengubinan dan hitungan baris yang rapi — matematika yang dipakai sehari-hari tanpa pernah disebut matematika.
Membawanya Masuk ke Kelas
Lalu, bagaimana memakainya dalam pembelajaran? Beberapa cara yang realistis untuk kelas kita:
Berburu simetri. Tugaskan siswa memotret (atau menggambar) motif tapis, anyaman, atau ornamen di rumah dan lingkungannya. Di kelas, mereka menandai sumbu simetri lipatnya, mencari simetri putarnya, dan menjelaskan motif mana yang terbentuk lewat penggeseran. Satu kegiatan, satu bab geometri transformasi terasa hidup.
Menggambar ulang motif. Di kertas berpetak atau GeoGebra, siswa meniru satu motif geometris tapis dengan aturan transformasi yang benar, lalu menciptakan variasinya sendiri. Di sini olah pikir berjalan bersama olah rasa — mereka merasakan betapa sulitnya menjaga keteraturan seperti para penenun.
Proyek kecil lintas mata pelajaran. Bersama guru seni budaya atau bahasa daerah, siswa mewawancarai orang tua atau pengrajin tentang makna motif — bukan hanya bentuknya. Hasilnya bisa berupa poster kelas "Matematika di Budaya Kami". Proyek semacam ini menyentuh banyak dimensi profil lulusan sekaligus: penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Kuncinya satu: budaya dipakai sebagai pintu masuk, bukan tempelan. Setelah siswa masuk lewat motif yang mereka kenal, guru tetap wajib membawa mereka tiba di konsep formalnya — definisi, sifat, dan pembuktian sederhananya. Jembatan harus dilalui sampai seberang.
Catatan Hati-hati: Budaya Bukan Sekadar Alat Peraga
Ada satu hal yang perlu dijaga. Tapis dan siger bukan sekadar gambar yang boleh diambil seenaknya; keduanya lambang kehormatan masyarakat Lampung, dan beberapa motif punya makna adat yang dalam. Menghormati hal itu adalah bagian dari pelajarannya.
Maka ajaklah siswa mendengar makna dari sumbernya — orang tua, tetua, atau pengrajin — bukan menebak-nebak sendiri. Dan bila memakai motif untuk hiasan kelas atau karya siswa, gunakan motif geometris umum dan hargai yang bersifat sakral. Etnomatematika yang baik membuat siswa bangga pada budayanya, bukan menjadikan budaya sekadar bahan lomba poster.
Di sinilah pembelajaran mendalam menunjukkan wajah lengkapnya: olah pikir tidak berjalan sendiri, ia ditemani olah hati.
Penutup
Siswa kita tadi benar separuh: matematika memang ada di buku. Tetapi ia sudah jauh lebih dulu ada di kain yang ditenun, mahkota yang ditempa, dan rumah yang dibangun oleh masyarakat tempat mereka lahir.
Tugas kita bukan menambah beban hafalan mereka, melainkan membuka mata mereka: bahwa pelajaran yang selama ini terasa jauh ternyata tinggal di sekitar mereka, menunggu untuk dikenali. Kalau suatu hari seorang siswa menunjuk motif di kain ibunya dan berkata, "Pak, ini simetri, ya?" — saat itulah matematika telah pulang ke rumahnya.
Ditulis untuk MGMP Matematika SMP Kabupaten Lampung Tengah.


