
Pembuka
Dulu, hari pertemuan MGMP itu hari yang ditunggu. Berangkat pagi-pagi ke sekolah induk, membawa bekal cerita dari kelas masing-masing: soal yang tidak bisa dipecahkan murid, cara mengajar yang kebetulan berhasil, keluhan soal kurikulum yang baru lagi. Pulangnya membawa sesuatu — modul ajar pinjaman, ide permainan untuk materi pecahan, atau sekadar perasaan bahwa kita tidak sendirian.
Sekarang coba perhatikan pertemuan-pertemuan terakhir. Kursi yang terisi makin sedikit. Yang datang seringnya wajah yang sama. Sebagian datang terlambat dan pulang lebih dulu, sebagian lagi hadir badannya saja — matanya tertuju ke gawai, menyelesaikan laporan yang tenggatnya sore itu juga.
Tidak ada yang benar-benar salah. Tapi ada yang hilang. Dan tulisan ini mencoba menamai kehilangan itu, sebelum kita terlambat menyadarinya.
Zaman Berubah, dan MGMP Kalah Cepat
MGMP tidak tergerus oleh satu sebab besar. Ia terkikis pelan-pelan, oleh banyak hal kecil yang masing-masing terasa masuk akal.
Pelatihan sekarang berlimpah dan serba daring. Tinggal buka platform, pilih topik, tonton rekamannya sambil mengerjakan hal lain, selesai — sertifikat terbit. Buat apa jauh-jauh datang ke pertemuan kalau ilmu bisa diambil dari kamar sendiri? Pertanyaan itu wajar, dan sebagian jawabannya memang: untuk banyak hal, tidak perlu.
Grup percakapan juga mengambil alih sebagian fungsi lama. Pengumuman menyebar dalam hitungan detik. Berkas dibagikan lewat pesan, bukan lagi dititipkan dari tangan ke tangan. Yang dulu menjadi alasan orang berkumpul, sekarang selesai tanpa perlu bertemu.
Belum lagi beban administrasi yang tidak pernah berkurang. Guru hari ini mengajar, lalu mengisi ini, mengunggah itu, melaporkan anu. Di antara semua kewajiban yang terukur dan ditagih, pertemuan MGMP adalah yang paling mudah dikorbankan — karena tidak ada yang menagih kehadiran kita di sana selain kesadaran sendiri.
Yang Ikut Hilang, Diam-diam
Sayangnya, yang hilang bukan cuma pertemuan. Ada fungsi-fungsi MGMP yang tidak tergantikan oleh platform dan grup percakapan, dan fungsi itu ikut memudar tanpa kita sadari.
Pertama, musyawarah yang sesungguhnya. Di ruang MGMP, guru dari sekolah berbeda bisa berdebat sehat tentang soal yang sama: kunci jawaban ini adil atau tidak, soal ini terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk anak kelas VIII. Kalibrasi semacam itu membuat penilaian antar sekolah tidak jomplang. Di grup percakapan, perdebatan seperti itu hampir tidak pernah terjadi — terlalu sungkan, terlalu mudah disalahpahami, akhirnya semua hanya mengirim stiker dan kata "siap".
Kedua, berbagi yang tidak bisa ditulis. Setiap guru senior menyimpan pengetahuan yang tidak ada di buku mana pun: cara menenangkan kelas yang ribut setelah istirahat, kalimat pembuka yang membuat anak berani bertanya, trik menggambar garis bilangan supaya tidak membosankan. Pengetahuan seperti itu berpindah lewat cerita dan obrolan, bukan lewat berkas. Ia hanya hidup kalau orangnya bertemu.
Ketiga, rasa satu profesi. Guru, apalagi yang sekolahnya jauh dan kecil, gampang merasa sendirian menghadapi masalahnya. MGMP selama ini menjadi pengingat bahwa di luar sana ada puluhan rekan dengan masalah yang sama — dan sebagian sudah menemukan jalan keluarnya. Solidaritas semacam itu tidak bisa diunduh.
Platform Memberi Ilmu, Komunitas Memberi Kekuatan
Di sini kita perlu adil. Platform digital dan pelatihan daring itu kemajuan, bukan musuh. Ilmu memang lebih mudah didapat sekarang, dan itu patut disyukuri.
Tetapi ilmu bukan satu-satunya kebutuhan guru. Ada kebutuhan lain yang hanya dipenuhi oleh komunitas: didengar, diakui, ditemani, dan dikuatkan. Webinar tidak menanyakan kabar anak kita yang sedang sakit. Rekaman pelatihan tidak bisa tertawa bersama mendengar cerita gagal kita di kelas. Dan tidak ada sertifikat yang bisa menggantikan tepukan di bahu dari rekan yang berkata, "Saya juga pernah begitu. Nanti juga lewat."
Kalau MGMP hanya bersaing di soal ilmu, ia pasti kalah — platform lebih cepat, lebih murah, lebih lengkap. Kekuatan MGMP tidak pernah di situ. Kekuatannya ada pada manusianya.
Menghidupkan Lagi, dari Hal yang Paling Dekat
Lalu, apakah MGMP dibiarkan memudar begitu saja? Rasanya sayang. Beberapa hal sederhana bisa mulai mengembalikan nyawanya.
Jadikan pertemuan tempat menyelesaikan pekerjaan nyata, bukan menambah pekerjaan. Guru akan datang kalau pulangnya membawa sesuatu yang langsung terpakai: perangkat ajar yang selesai disusun bersama, bank soal yang sudah dimusyawarahkan kuncinya, media pembelajaran yang tinggal tayang. Situs MGMP kita ini contohnya — menu Perangkat Ajar-nya mulai terisi karena dikerjakan bersama, bab demi bab. Orang pulang dengan tangan penuh tidak akan kapok datang lagi.
Beri panggung pada guru biasa. Bukan selalu narasumber dari jauh. Rekan dari sekolah sebelah yang kemarin berhasil membuat anak-anaknya paham perbandingan senilai justru lebih relevan — konteksnya sama, muridnya mirip, alatnya seadanya. Praktik baik yang dekat terasa mungkin ditiru.
Rawat yang muda. Guru-guru baru adalah yang paling membutuhkan komunitas, tetapi sering yang paling sungkan datang karena merasa belum punya apa-apa untuk dibagi. Undang mereka secara pribadi, beri peran kecil, dengarkan dulu. Komunitas yang tidak merekrut generasi berikutnya sedang menjadwalkan kepunahannya sendiri.
Dan yang paling dasar: datang. Kedengarannya sepele, tapi kehadiran adalah suara paling jujur tentang apa yang kita anggap penting. Komunitas tidak mati karena dibubarkan; komunitas mati karena anggotanya berhenti datang satu per satu.
Penutup
MGMP lahir dari gagasan sederhana: guru adalah ahli bagi sesama guru. Gagasan itu tidak kedaluwarsa. Yang berubah hanyalah zaman di sekelilingnya — dan barangkali cara kita menjaganya.
Fungsi MGMP memang sedang tergerus, sebagian karena kemajuan, sebagian karena kelalaian kita sendiri. Tetapi selama masih ada guru yang mau berkumpul, bercerita, berdebat sehat, dan pulang membawa sesuatu untuk muridnya, komunitas ini belum selesai. Ia hanya perlu dihadiri kembali.
Kursi-kursi di ruang pertemuan itu masih ada. Tinggal kita mau duduk lagi di sana, atau tidak.
Ditulis untuk MGMP Matematika SMP Kabupaten Lampung Tengah.


