
Pembuka
Beberapa waktu lalu, seorang alumni datang ke sekolah. Sudah bekerja, sudah berkeluarga. Ia tidak mencari kepala sekolah. Ia juga tidak perlu legalisir atau surat apa pun. Ia hanya bertanya pelan di ruang guru, "Guru saya dulu masih mengajar di sini, Pak? Saya cuma ingin menyapa."
Kalimat "cuma ingin menyapa" itu tinggal lama di kepala saya.
Anak itu sudah lulus bertahun-tahun. Pelajaran kami barangkali sudah banyak yang ia lupakan — rumus, tanggal, definisi, semuanya bisa menguap. Tetapi ada seseorang yang tidak ikut menguap. Ada guru yang kehadirannya masih ia cari, bahkan ketika ia tidak lagi membutuhkan nilai dari guru itu.
Di situlah saya mulai bertanya pada diri sendiri: guru seperti apa yang dirindukan seperti itu? Bukan guru yang fotonya paling sering muncul di media sosial sekolah. Bukan juga yang paling keras suaranya. Mungkin justru guru yang sederhana, yang dulu membuat anak merasa aman untuk belajar — dan merasa dihargai sebagai manusia.
Dirindu Itu Bukan Soal Dicari Saat Ada Perlu
Ada guru yang dicari karena memegang kunci. Kunci laboratorium, kunci keputusan nilai, kunci tanda tangan. Begitu urusan selesai, pencarian pun selesai.
Guru yang dirindu berbeda. Ia dicari justru ketika tidak ada urusan. Siswa menanyakan kabarnya saat ia tidak masuk. "Pak, kemarin ke mana? Kami kira Bapak pindah kelas." Kalimatnya terdengar sepele. Padahal di baliknya ada hal yang tidak bisa dibuat-buat: anak-anak merasa kehilangan.
Rasa kehilangan itu tidak lahir dari satu peristiwa besar. Ia tumbuh dari hari-hari biasa. Dari cara guru masuk kelas, cara ia menyapa anak yang datang terlambat tanpa mempermalukannya di depan teman-teman, cara ia berhenti sejenak ketika melihat wajah yang murung, lalu bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"
Hal-hal kecil. Tetapi bagi anak, hal kecil yang dilakukan berulang-ulang itulah yang bernama perhatian.
Lembut Bukan Hiasan, Ia Perintah yang Hidup di Kelas
Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan kelembutan Rasulullah ﷺ kepada orang-orang di sekitarnya dengan sangat jelas. Ayat ini sering kita baca, tetapi kalau dibaca pelan-pelan sambil membayangkan suasana kelas, rasanya ia berbicara langsung kepada guru.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: "Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu." (QS. Āli 'Imrān [3]: 159)
Perhatikan ujung ayatnya: orang menjauh bukan selalu karena tidak suka pada pelajaran. Kadang mereka menjauh dari orangnya. Dari nada bicaranya. Dari cara ia menegur. Dari rasa takut yang lebih dulu datang sebelum penjelasan sempat didengar.
Di kelas pun begitu. Ada anak yang tampak tidak peduli pada matematika, padahal sebenarnya ia sedang melindungi dirinya. Ia takut salah, takut ditertawakan, takut dianggap lambat. Kalau setiap kesalahan disambut dengan bentakan atau sindiran, anak itu akan memilih cara paling aman: diam, menjauh, dan pura-pura tidak tertarik. Dari luar ia terlihat malas. Dari dalam, ia sedang menyerah diam-diam.
Lemah lembut bukan berarti membiarkan semuanya. Guru yang dirindu tetap menegur, tetap memberi batas, tetap menuntut tanggung jawab. Bedanya, tegurannya tidak merobohkan harga diri anak. Ia memisahkan dengan jernih: yang dikoreksi adalah perbuatannya, bukan pribadi anaknya. "Pekerjaanmu belum selesai, selesaikan setelah ini," terdengar sangat berbeda dengan "Kamu ini memang selalu tidak bisa diandalkan." Kalimat pertama memberi jalan. Kalimat kedua menutup pintu.
Yang Membuat Siswa Merindu: Hadir Sepenuhnya
Saya perhatikan, guru yang dirindu biasanya tidak selalu yang paling pandai menjelaskan. Penjelasan yang bagus tentu penting — kita tidak boleh meromantisasi kehangatan lalu mengabaikan penguasaan materi. Anak juga merindukan guru yang bisa mereka percaya ilmunya. Tetapi yang membuat penjelasan itu sampai, sering kali adalah rasa bahwa guru sungguh-sungguh hadir untuk mereka.
Hadir itu wujudnya sederhana.
Ia mengingat nama anak, bukan hanya nomor absen. Ia tahu anak yang biasanya ceria hari ini tidak seperti biasanya. Ia mendengarkan jawaban sampai selesai sebelum menyela, bahkan ketika jawaban itu masih berantakan. Ia tidak buru-buru berkata "salah", melainkan bertanya, "Coba lanjutkan, kamu tadi berpikirnya bagaimana?"
Ia juga adil. Ini bagian yang tidak selalu dibicarakan, padahal anak-anak sangat peka terhadapnya. Mereka bisa menerima nilai yang jelek kalau mereka tahu penilaiannya jujur. Yang sulit mereka terima adalah perlakuan yang berat sebelah — anak kesayangan selalu dibela, anak yang pernah bermasalah selalu dicurigai. Sekali rasa adil itu hilang, wibawa guru ikut hilang, sekeras apa pun ia berusaha mempertahankannya.
Dan ia konsisten. Aturan yang ia buat, ia jaga sendiri. Janji yang ia ucapkan, ia tepati. Kalau ia berkata ulangan akan dibahas besok, besok benar-benar dibahas. Kepercayaan anak dibangun dari konsistensi-konsistensi kecil seperti itu. Tidak dramatis. Tetapi kokoh.

Mengajar Kebaikan Itu Didoakan, Bahkan oleh yang Tidak Kita Lihat
Ada satu hadis yang setiap kali saya membacanya, saya merasa pekerjaan guru menjadi lebih sunyi sekaligus lebih mulia. Mengajar kebaikan kepada manusia ternyata bukan pekerjaan yang sepi, meskipun kelas sudah kosong dan semua anak sudah pulang.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, dan penghuni langit dan bumi, sampai semut di lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. At-Tirmiżī)
Saya tidak membaca hadis ini sebagai alasan untuk merasa sudah baik. Justru sebaliknya. Ia mengingatkan bahwa yang diajarkan haruslah kebaikan — bukan sekadar materi yang selesai, bukan sekadar target kurikulum yang tercentang. Kebaikan itu mencakup cara kita memperlakukan anak saat mengajar. Ilmu yang disampaikan dengan merendahkan, barangkali tetap sampai sebagai informasi, tetapi belum tentu sampai sebagai kebaikan.
Hadis ini juga menolong pada hari-hari yang melelahkan. Ada hari ketika penjelasan sudah diulang tiga kali dan masih ada yang belum paham. Ada hari ketika kebaikan kita dibalas dengan sikap yang tidak menyenangkan. Pada hari seperti itu, ukuran pekerjaan kita tidak selalu terlihat dari respons kelas hari itu juga. Ada doa dan nilai yang tidak tercatat di jurnal, tetapi dicatat di tempat yang jauh lebih abadi.
Hal-Hal Kecil yang Ternyata Diingat Bertahun-Tahun
Kalau kita bertanya kepada alumni, "Apa yang kamu ingat dari gurumu dulu?", jarang ada yang menjawab dengan urutan materi bab tiga. Yang mereka ingat biasanya justru potongan-potongan kecil.
Mereka ingat guru yang menunggu mereka selesai berpikir, bukan guru yang buru-buru menunjuk anak paling cepat. Mereka ingat kalimat, "Tidak apa-apa, kita pelajari lagi," yang diucapkan pada saat mereka merasa paling bodoh di kelas. Mereka ingat guru yang datang menghampiri meja, berjongkok supaya sejajar, lalu menjelaskan dengan suara pelan supaya ia tidak malu di hadapan teman-temannya.
Ada juga yang ingat hal yang lebih sederhana lagi: disapa dengan namanya di gerbang sekolah. Ditanya kabar ibunya yang sakit. Diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki tugas, bukan karena guru kasihan, melainkan karena guru percaya ia bisa lebih baik dari hasil pertamanya.

Kita sering merasa harus melakukan sesuatu yang besar agar berkesan. Padahal dalam ingatan anak, yang besar itu sering kali adalah ketulusan yang diulang setiap hari dalam bentuk yang kecil.
Tentu tidak semua anak akan kembali dan mengucapkan terima kasih. Banyak yang pergi begitu saja, dan itu wajar. Menjadi guru yang dirindu bukan proyek mencari balasan. Kalau kita mengajar hanya supaya dikenang, kita akan cepat kecewa. Kerinduan siswa, kalau ia datang, adalah buah — bukan tujuan yang dikejar-kejar. Tujuan kita tetap mendidik dengan benar dan dengan hati yang baik. Buahnya biarlah tumbuh pada waktunya, kadang bertahun-tahun setelah kita tidak lagi mengajar mereka.
Penutup
Pada akhirnya, setiap guru akan meninggalkan kelas. Ada yang pindah tugas, ada yang pensiun, ada yang hanya berganti jadwal semester depan. Yang tertinggal bukan suara kita di ruang itu. Yang tertinggal adalah perasaan yang pernah dialami anak ketika bersama kita: apakah ia merasa aman, didengar, dan dipercaya bisa bertumbuh — atau justru merasa kecil dan ingin cepat-cepat pergi.
Menjadi guru yang dirindu bukan tentang menjadi guru yang sempurna. Kita tetap bisa lelah, bisa keliru, bisa salah ucap. Bedanya barangkali hanya satu: kita mau kembali memperbaiki cara kita memperlakukan anak, setiap hari, sedikit demi sedikit.
Semoga, ketika suatu hari seorang anak yang sudah dewasa datang dan berkata, "Saya cuma ingin menyapa," kita tahu bahwa yang ia rindukan bukan hanya pelajaran kita. Ia merindukan cara kita membuatnya merasa berharga saat belajar. Dan semoga Allah menjadikan setiap kebaikan kecil yang kita ajarkan sebagai doa yang kembali kepada kita, pada saat kita paling membutuhkannya.
Ditulis untuk MGMP Matematika SMP Kabupaten Lampung Tengah.


